Kamis, 25 Desember 2008

Mamadou Hengkang dari Persiraja


UJUNG tombak andalan Persiraja Banda Aceh, Niane Mamadou secara resmi hengkang dari skuad Lantak Laju. Sang pemain mengaku tak lagi mampu bertahan di tengah krisis keuangan yang kian parah mendera tim kebanggaan masyarakat ibukota Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam tersebut.


Hal ini dibenarkan oleh Asisten Manajer Persiraja M Kasem. Ia menyebutkan, Mamadou telah mengirimkan surat resmi perihal pengunduran dirinya dari klub yang baru dibelanya selama setengah musim itu.


“Ya, Mamadou telah mengirimkan surat ke PSSI dan Direktur Alih Status PSSI dan BLI. Surat tembusannya ke pihak klub juga sudah kami terima. Dari informasi yang kami terima, ia merapat ke Persikab atau Persiwa Wamena,” ujar M Kasem, Kamis (25/12).


“Dia mengatakan kepada klub bahwa dirinya tak sanggup membawa Persiraja ke posisi yang mantap jika keadaan klub seperti ini, selain beberapa alasan pribadi lain,” tambahnya.


Pemain yang juga sempat memperkuat PS Sleman dan PS Semen Padang tersebut di dalam suratnya juga meminta bayaran setengah musim. Mengenai jumlah kontrak yang akan dibayarkan, M Kasem menolak memberi rincian.


“Mamadou hanya meminta hak-hak dia selama setengah musim atau putaran pertama saja. Untuk nominal bayaran yang akan dibayarkan, saya rasa kurang etis untuk dirincikan,” sergahnya.


Dengan hengkangnya sang bomber andalan, kian lengkaplah krisis yang menimpa bonden Kutaraja di musim ini. Sebelumnya, Pelatih Kepala Herry Kiswanto juga mengundurkan diri dari kursi arsitek Laskar Rencong.


“Kondisi ini tak mampu kami elak. Karena sumber dana hanya dari sponsorship dan sumbangan dermawan, maka tak ada dana khusus yang dialokasikan. Semoga di tahun 2009 ada pencerahan dari dana APBK,” papar M Kasem.


Mengenai kandidat pelatih, M Kasem menyebutkan nama Ruly Nere, Mustaqim dan H Salihin sebagai suksesor Herry Kiswanto. Namun, belum ada keputusan resmi dari klub tentang siapa yang bakal terpilih.


“Sudah masuk di dalam list, tetapi belum diputuskan. Yang penting, mereka dapat melanjutkan program Herry, mengerti keadaan tim serta bisa menjaga kesolidan yang telah dibangun selama ini,” pungkasnya.

Sabtu, 20 Desember 2008

Iwan Setiawan Menuju Persiraja




MANTAN pelatih PSMS Medan Iwan Setiawan dikabarkan menjadi kandidat terkuat untuk membesut Persiraja Banda Aceh. Kabar ini berhembus kencang di tubuh skuad Lantak Laju hanya beberapa saat usai Herry Kiswanto mengumumkan pengunduran dirinya sebagai pelatih kepala.



Iwan sendiri saat ini sedang menjabat sebagai allenatore Persas Sabang. Kendati demikian, dirinya tak menampik jika ia berhasrat menangani Persiraja.



“Memang belum ada kontak khusus dari Persiraja. Tetapi jika dipercaya, saya siap melatih mereka,” ujarnya.



Keinginannya untuk mengarsiteki klub sebesar Persiraja memang bukan tanpa alasan. Membesut Persas yang hanya berkompetisi di Divisi III PSSI, tentu bukan ‘habitat’ bagi Iwan yang mengantongi lisensi kepelatihan internasional.



“Banyak persoalan yang mesti dilirik. Kalau saya bergabung, pihak klub mesti terbuka tentang segala kendala yang dihadapi. Semua harus melalui diskusi mendalam,” terangnya.



Iwan juga tidak mengedepankan masalah gaji jika ia direkrut bonden Kutaraja nanti. Dirinya mengaku paham atas krisis keuangan yang sedang melanda Persiraja.



“Saya tidak masalah soal gaji, tetapi hal yang pertama akan saya lakukan adalah mengevaluasi tim. Tapi sekali lagi saya tekankan, membawa klub yang saya bela ke posisi terhormat adalah motivasi positif bagi saya,” papar Iwan.



Sementara itu, Asisten Manajer Persiraja M Kasem menyebutkan pihaknya masih belum memasukkan list nama-nama pelatih yang bakal menjadi suksesor Herry Kiswanto.



“Hingga saat ini, klub belum meresmikan daftar kandidat pelatih. Namun, kami sudah punya bayangan kriteria calon,” jelasnya.



M Kasem mengatakan, para petinggi, pengurus dan manajemen klub harus betul-betul memikirkan seluruh aspek tim guna menemukan pelatih yang klop mengasuh Azhari dkk. Untuk itu, pihaknya bakal mempelajari karakter calon pelatih tersebut.



“Kami memang sedang mengincar pelatih. Tetapi, kami akan mempelajari dulu track record kandidat-kandidat yang ada dan hal tersebut akan kami putuskan di rapat pengurus nanti,” tukasnya.



“Kami akan diskusi bersama pelatih baru nanti soal krisis dana yang menimpa klub. Pelatih yang memenuhi kriteria tentu yang mengerti keadaan klub,” tambahnya.



Dengan begitu, secara tersirat Persiraja membuka pintu bagi Iwan untuk bergabung bersama Laskar Rencong. Pasalnya, selain punya kemampuan dan pengalaman di kancah teratas sepakbola Indonesia, kandidat kuat lainnya, pelatih PSSB Bireuen Anwar yang notabene eks arsitek Persiraja dikabarkan lebih condong menerima tawaran PSAP Sigli yang sudah lama ditinggalkan Sofyan Hadi. Iwan sendiri juga menegaskan persoalan gaji bukanlah yang utama.




“Yang penting, pelatih baru nanti mampu membawa Persiraja promosi ke Liga Super atau paling tidak finis di klasemen akhir Indonesia Premier League pada posisi lima besar,” pungkas M Kasem.

Selasa, 02 Desember 2008

Persiraja Compang-camping di Copa Indonesia


PERSIRAJA Banda Aceh bakal tampil dengan kekuatan seadanya saat menjamu PSMS Medan dalam lanjutan Copa Indonesia Dji Sam Soe 2008 leg kedua di Stadion H Dimurthala Banda Aceh, Rabu (3/12). Kondisi ini diperparah dengan tak hadirnya sang pelatih Herry Kiswanto mendampingi anak-anak asuhnya berlatih beberapa hari terakhir.


Asisten Pelatih Persiraja, Sulaiman membenarkan hal tersebut. Ia menyebutkan nyaris sepekan Herry tak hadir di base camp Persiraja untuk melatih para pemain.


“Pelatih Kepala tidak sedang bersama kami saat ini. Para pemain juga sudah empat hari tidak latihan,” ujar Sulaiman, Selasa (2/11).


Pria yang akrab disapa Romario ini juga menyatakan tidak punya target di kancah Copa Indonesia. Menurutnya, skuad Lantak Laju hanya fokus di pentas Indonesia Premier League (IPL) karena klub dibelit permasalahan dana.


“Kalau pemain bisa bermain maksimal dan menahan PSMS sudah lumayan. Kami tidak bisa paksakan mereka, apalagi gaji mereka selama lima bulan belum dibayar. Dalam pertandingan melawan Persibat Batang, Jawa Tengah kemarin sekadar tampil saja agar tidak terkena degradasi. Itupun karena saya bujuk mereka, kalau tidak, mereka tidak mau main,” paparnya.


Kubu Laskar Rencong juga dipastikan tidak diperkuat trio asingnya; Abdoulaye Djibril, Niane Mamadou dan Leonardo Felicia. Ketiga jugador andalan tersebut dikabarkan menolak tampil karena gaji yang tak kunjung dibayar.


“Melawan PSMS nanti, Persiraja hanya menurunkan pemain-pemain lokal. Sementara, trio asing tak bisa tampil karena masalah gaji,” jelas Sulaiman.


Sementara itu, Asisten Manajer Persiraja M Kasem mengatakan pasrah dengan apapun hasil yang diterima anak-anak asuhnya nanti.


“Mampu meladeni PSMS saja sudah bagus. Kami tidak berani menargetkan menang, walaupun dalam sepakbola apa saja bisa terjadi,” ujar M Kasem, Selasa (2/12).


“Dari awal kami telah mengatakan tak punya target di kancah Copa Indonesia karena memang sedang dibekap masalah keuangan yang pelik. Kami tampil hanya untuk menghindari sanksi dari Badan Liga Indonesia (BLI) dan Komisi Disiplin PSSI,” tambahnya.


Dengan demikian, harapan memetik angka penuh sekaligus membayar kekalahan di Stadion Teladan Medan pada leg pertama agaknya sulit terealisasi. Namun, Abdul Musawir dkk tak semestinya patah arang. Mengingat apapun bisa terjadi di atas lapangan hijau, kemenangan masih bisa diraih.


Bola itu bundar, Persiraja!

Jumat, 28 November 2008

Asa Tinggi Persiraja di Laga Terakhir


KUBU Persiraja Banda Aceh menyimpan asa tiga angka saat melakoni partai terakhirnya di putaran I Indonesia Premier League (IPL) menghadapi Persibat Batang di Stadion M Sarengat Batang, Jawa Tengah, Sabtu (29/11) petang. Jika terwujud, maka kemenangan bakal menjaga skuad Lantak Laju tetap berada di jalur juara.


“Kami menginginkan angka penuh pada pertandingan terakhir paruh musim ini melawan Persibat. Tentu saja hal ini sangat vital untuk mengamankan posisi lima besar klasemen sementara,” ujar Asisten Manajer Persiraja M Kasem, Jumat (28/11).


Saat ini, skuad besutan Herry Kiswanto bercokol di peringkat ke-5 klasemen sementara IPL dengan koleksi 21 poin dari 13 pertandingan. Mereka hanya tertinggal tiga angka dari Mitra Kukar dan Persisam Putra Samarinda yang berada di dua posisi teratas.


Kendati demikian, misi ini agaknya berat dituntaskan Musawir dkk. Pasalnya, Persibat dikenal beringas jika bermain di depan publik sendiri. Beberapa tim kuat IPL seperti PSP Padang dan PSSB Bireuen sudah merasakan sengatan klub berjuluk Laskar Alas Roban ini dimana mereka dipaksa tunduk dengan marka telak 3-0 dan 2-0.


Namun, Laskar Rencong juga punya modal untuk memetik poin di kandang Persibat. Selain peringkat yang berbeda jauh – Persibat saat ini berada di posisi juru kunci bersama PSAP Sigli – Persiraja juga dipastikan turun dengan kekuatan penuh. Kuartet Djibril-Mamadou-Leo-Musawir serta barisan palang pintu Yusdianto-Toung Elly-Dedek-Yudho berada dalam kondisi fit dan siap memperkuat bonden Kutaraja di Stadion M Sarengat. Jika kurang tajam, Nanda Lubis yang sedang on-fire bisa menambah daya gedor.


“Para pemain rata-rata dalam kondisi terbaik dan siap mempersembahkan poin bagi tim,” papar M Kasem.


“Laga melawan Persibat di kandang lawan selalu menjadi laga yang berat. Mereka sangat tangguh di sana. Tapi poin penuh tetap menjadi prioritas kami,” jelasnya.


M Kasem juga mengharapkan kembali sentuhan emas pelatih Herry Kiswanto mampu memberikan kemenangan di akhir paruh musim ini.


“Kami memiliki salah satu legenda sepakbola dan pelatih terbaik di Indonesia. Saya harap pelatih Herry Kiswanto menunjukkan sentuhan emasnya di laga ini,” pungkas M Kasem.

Selasa, 25 November 2008

Persiraja Tersandung di Teladan


PERSIRAJA Banda Aceh gagal menuntaskan ambisinya untuk memetik angka penuh kala bertandang ke markas PSMS Medan usai ditekuk satu gol tanpa balas pada leg pertama babak 48 besar Copa Indonesia Dji Sam Soe 2008 Zona I di Stadion Teladan Medan, Selasa (25/11).


Kegagalan ini membuat target meraup poin penting sekaligus menguasai Stadion Teladan sirna. Setidaknya, skuad Lantak Laju kehilangan kesempatan menuai gol di kandang lawan yang berpengaruh pada agregat untuk lolos ke babak berikutnya.


Adalah gol tunggal Rachmad Afandi yang membawa PSMS menjungkalkan Persiraja 1-0. Dengan kemenangan ini, pasukan Ayam Kinantan punya kans lebih besar saat kedua kubu bertemu pada leg kedua di Stadion H Dimurthala Lampineung, Banda Aceh, 3 Desember mendatang.


Persiraja sendiri bukannya tanpa peluang. Sepanjang pertandingan, Djibril cs membombardir jantung pertahanan tuan rumah dan punya sejumlah peluang emas. Sayang, hingga akhir laga tak ada satupun gol yang mampu diciptakan Laskar Rencong.


Kemenangan ini sekaligus kado terakhir pelatih PSMS, Erick Williams, yang jabatannya akan digantikan Luciano Leandro. Erick sendiri tetap di Medan dan kembali membesut PSMS U-21.


Sejak peluit kickoff dibunyikan, kedua tim terlibat pertarungan sengit dalam laga bergengsi bertajuk Derby of Sumatera ini. PSMS yang bermain di depan publik sendiri tampil garang dengan menciptakan peluang demi peluang. Namun, acungan jempol pantas disematkan pada kiper Persiraja, Dede Pranata yang sukses memblok sejumlah tendangan berbahaya dari para pemain lawan.


Kendati demikian, pertahanan bonden Kutaraja akhirnya jebol juga setelah pemain PSMS, Afandi memecah kebuntuan timnya lewat golnya di menit ke-41. Keunggulan ini bertahan hingga turun minum.


Satu menit babak kedua berjalan, Afandi hampir memperbesar keunggulan PSMS bila saja tendangannya tak melambung di atas mistar gawang Persiraja yang kali ini dikawal Eddi Gunawan menggantikan Dede.


Persiraja memiliki tiga peluang melalui tendangan bebas kapten Abdoulaye Diallo Djibril, sundulan Niane Mamadou dan tendangan Leonardo Maximiliano Felicia, namun belum menemui hasil. Bahkan tim asuhan Herry Kiswanto itu nyaris menyamakan kedudukan jika saja tendangan spekulasi Didi Firmansyah di menit ke-87 tidak mampu ditepis kiper PSMS, Galih Sudaryono.


Penyelesaian akhir yang terburu-buru diduga menjadi biang kerok kemandulan Persiraja membobol gawang lawan. Padahal, jika saja lini depan anak-anak Banda Aceh sedikit tenang, kesempatan berharga tersebut mampu dimaksimalkan.


Faktor stamina yang mulai kedodoran dan tangguhnya tembok belakang PSMS juga jadi sebab tak kunjung lahirnya gol untuk Persiraja.Hingga wasit Eri Bastari asal Sumatera Barat meniup peluit panjang tanda usainya pertandingan, kedudukan tak berubah 1-0 untuk kemenangan PSMS.


Asisten Manajer Persiraja, M Kasem menilai laga sebenarnya berjalan seimbang. Bahkan penguasaan bola, khususnya di 40 menit terakhir menjadi milik anak-anak asuhnya.


“Anak-anak bermain spartan di pertandingan ini. Kami mampu meladeni permainan menyerang PSMS dan lebih menguasai bola di babak kedua,” ujar M Kasem, Selasa (25/11).


Ia juga menyayangkan tak tenangnya barisan depan Persiraja sehingga seluruh kesempatan emas yang didapat terbuang percuma.


“Kami punya sejumlah peluang emas. Tapi para pemain kurang tenang dan terburu-buru menyelesaikannya. Stamina yang kedodoran juga ikut melemahkan serangan kami,” pungkas M Kasem.


Kekalahan 0-1 bukan menjadi akhir dari semuanya. Masih ada kesempatan menanti di leg kedua mendatang untuk memenangkan laga dan keluar sebagai yang terbaik di pertempuran raksasa Pulau Sumatera.


Perang belum usai.. Ayo, Lantak Lom, Persiraja!

Senin, 24 November 2008

Ambisi Patahkan Taji Ayam Kinantan


PERSIRAJA Banda Aceh berambisi memetik tiga poin saat bertandang ke markas PSMS Medan dalam putaran awal Copa Indonesia Dji Sam Soe 2008 di Stadion Teladan Medan, Selasa (25/11) petang nanti. Performa lawan yang buruk di Liga Super membuat skuad Lantak Laju optimis mampu memotong taji pasukan Ayam Kinantan.


Kasta boleh berbeda, namun track record kedua kubu sangatlah timpang. Memiliki sejumlah pemain-pemain top semisal Elly Aiboy dan Patricio Antonio Jimenez, PSMS malah digebuk di Liga Super dan terhempas ke dasar klasemen sebagai juru kunci. Kehilangan pilar-pilar seperti Markus Horison, Usep Munandar dan Frank Seator ternyata meninggalkan lubang besar di peta kekuatan anak-anak Medan ini. Padahal mereka berstatus sebagai runner-up Liga Indonesia 2007.


Sementara, Persiraja tampil kinclong di pentas Divisi Utama/Indonesia Premier League (IPL). Skuad besutan Herry Kiswanto ini bercokol di peringkat keempat dengan koleksi 21 poin, hanya tertinggal empat angka dari pemuncak klasemen sementara, Persisam Putra Samarinda. Kegigihan Abdoulaye Djibril dkk di kandang lawan juga tak perlu diragukan lagi. Dari empat lawatan terakhir di ajang IPL, Persiraja hanya menderita satu kali kekalahan dan memetik satu kali angka penuh.


“Walaupun mereka (PSMS) bermain satu kasta lebih tinggi dari kami, tetapi penampilan mereka sejauh ini sangat buruk. Berbeda dari Persiraja yang bisa dibilang lebih konsisten,” ujar Asisten Manajer Persiraja, M Kasem, Senin (24/11).


“Kami optimis mampu meraih angka di Stadion Teladan nanti,” tambahnya.


Reuni Pemain


Ajang Copa Indonesia kali ini sekaligus reuni dari para pemain kedua kubu. Selain sang pelatih, Herry Kiswanto yang mantan pemain PSMS, juga ada dua pilar bonden Medan yang sempat memperkuat Persiraja, Zul Bahra dan Doddy Cahyadi.


Selain itu, sejumlah pemain kelahiran Seuramoe Mekkah juga hadir membela PSMS ketika ditantang Persiraja petang nanti. Mereka adalah Andriansyah, Andrie Yoga, Hendra Saputra dan Mukhlis Sawang yang kemungkinan bakal diturunkan pelatih anyar PSMS, Eric Williams.


“Ya, PSMS punya sejumlah pemain asal Aceh. Mereka juga diperkuat dua mantan pemain Persiraja musim lalu, Zul Bahra dan Doddy Cahyadi,” papar M Kasem.


Walaupun demikian, kubu bonden Kutaraja dipastikan tak bakal bermain setengah-setengah menghadapi mantan jawara Copa Indonesia 2005 ini. Kehadiran eks-pemain Persiraja plus sejumlah pemain tanah rencong lainnya tak membuat Musawir cs membatasi daya dobrak mereka ke jantung pertahanan lawan.


“Kami tak akan bermain setengah-setengah. Tetapi itu merupakan strategi pelatih untuk merotasi pemain. Karena perjuangan di liga masih sangat panjang dan kami lebih fokus ke sana,” tegas M Kasem.


Kendati melawan kekuatan klub Liga Super, Laskar Rencong yakin mampu menuai angka di kandang lawan sekaligus mematahkan taji runcing ayam kinantan. Kemenangan yang bakal menasbihkan Persiraja sebagai salah satu klub terbaik di kancah persepakbolaan Indonesia.


Lantak Laju, Persiraja!

Kamis, 20 November 2008

Dendam dan Pembuktian di Laga Derby


PERTARUNGAN sengit antara dua klub elit Aceh; Persiraja Banda Aceh dan PSAP Sigli bakal terhampar di Stadion H Dimurthala Lampineung, Jumat (21/11) petang nanti. Laga ini bukan hanya soal mendongkrak posisi di klasemen sementara Indonesia Premier League (IPL), tetapi juga mengusung misi balas dendam serta ajang pembuktian siapa tim terkuat di Aceh saat ini.


Pertemuan terakhir mereka terjadi di Copa Indonesia, 17 Mei 2007 silam. Saat itu, Persiraja disingkirkan Laskar Aneuk Nanggroe dari pentas Copa Indonesia setelah kalah selisih gol kendati menang 3-1 di kandang. Pada pertemuan sebelumnya, 13 Mei 2007, PSAP membungkam bonden Kutaraja di Stadion Kuta Asan Sigli lewat tiga gol tanpa balas. PSAP pun melaju sebagai satu-satunya klub Aceh yang bertahan di kompetisi nomor dua terakbar se-nusantara tersebut.


Namun, kali ini atmosfernya sedikit berbeda bagi kedua kubu. Datang dengan status klub tanah rencong terkuat musim 2007-2008, PSAP justru terdampar sebagai juru kunci musim ini dan menelan delapan kali kekalahan dari 12 kali bertanding serta hanya meraup delapan poin.


Sementara posisi Persiraja jauh lebih mengkilap dengan bercokol di peringkat keempat lewat torehan 20 poin serta hanya berselisih dua poin atas pimpinan klasemen sementara, Persisam Putra Samarinda dan PS Mitra Kukar.


“Peringkat dan kemampuan kami lebih baik. Kami optimis menang. Tetapi, kami tetap harus waspada,” tukas kapten Persiraja Abdoulaye Djibril, Kamis (20/11).


Asisten Persiraja M Kasem juga yakin skuadnya bakal meraih angka penuh di depan publik sendiri. Meskipun klub masih dihantui masalah dana dan pembayaran gaji para pemain, tetapi ia menyebutkan Djibril dkk siap menghadirkan tawa bagi suporter Laskar Rencong.


“Anak-anak dipastikan siap menjamu PSAP dan memetik kemenangan. Ini ajang pembuktian sekaligus membalaskan dendam Persiraja musim lalu,” ujar M Kasem.


“Para pemain juga sudah mengerti dan menerima keadaan klub yang sedang compang-camping ini. Mereka akan menunjukkan profesionalisme dan membawa Persiraja ke puncak klasemen,” ungkapnya.


Ditambah faktor tuan rumah, skuad Lantak Laju tentu lebih diunggulkan. Namun, bukan berarti pasukan Sigli merasa inferior. Anak-anak asuh M Daud itu wajib diwaspadai melihat di laga terakhir mereka sukses melumpuhkan Persikota Tangerang 1-0 di kandang lawan. Di lain pihak, Persiraja justru takluk atas Persikad Depok.


“Kami punya modal bagus di laga terakhir melawan Persikad. Kemenangan itu vital dan menjadi pemicu semangat para pemain untuk menang di pertandingan nanti,” papar M Daud.


Ya, kemenangan wajib diraih kedua kubu guna mengamankan posisinya di klasemen sementara IPL. Kemenangan yang akan menjaga marwah klub-klub Aceh di pentas elit Liga Indonesia.

Minggu, 16 November 2008

Hasil Ironis


HASIL diluar dugaan dituai tiga klub kebanggaan masyarakat Aceh; Persiraja, PSAP dan PSSB Bireuen ketika bertandang ke markas tim-tim Pulau Jawa dalam lanjutan Indonesia Premier League (IPL), Minggu (16/11) kemarin. Berada dalam kondisi porak-poranda, PSAP justru tampil sebagai kampiun, sementara dua saudaranya yang lebih mapan terkapar lewat kekalahan tipis.


PSAP Sigli yang menantang Persikota di Stadion Benteng, Tangerang, mampu tampil lepas dan membungkam tuan rumah satu gol tanpa balas lewat sontekan Sayuti di menit ke-75. Hasil ini sungguh ironis, mengingat di laga terakhir dibantai oleh Persikad Depok dengan skor 0-4.


Kendati demikian, Laskar Aneuk Nanggroe harus membayar mahal kemenangan mereka setelah Tobias diganjar kartu merah di menit ke-53 akibat pelanggaran keras. Sukman Suib juga mengalami cedera di wajahnya usai bertabrakan dengan pemain lawan dan mesti dilarikan ke rumah sakit.


Walaupun memetik angka penuh, PSAP tetap tak beranjak dari posisi juru kunci dengan perolehan poin delapan dari 12 kali pertandingan. Sunday M Seah dkk hanya terpaut dua poin dari zona hijau yang diduduki Persibat Batang.


“Kemenangan ini penting bagi kami. Walaupun belum bergerak dari dasar klasemen, tetapi sudah menjadi titik balik bagi kami. Anak-anak juga bermain semakin baik,” ujar pelatih sementara PSAP, M Daud, Minggu (16/11).


Nasib berbeda diderita Persiraja Banda Aceh dan PSSB Bireuen. Bermodalkan persiapan penuh serta hasil memuaskan di lima laga terakhir, tak menolong Persiraja dari kekalahan. Setelah sukses menahan imbang Persikota Tangerang, skuad Lantak Laju dipaksa menyerah dengan marka 1-2 oleh Persikad Depok di Stadion Merpati yang diguyur hujan lebat.


Meskipun sempat unggul duluan lewat aksi Abdoulaye Djibril di menit ke-13, Persiraja akhirnya keluar dengan wajah tertunduk setelah Persikad mampu membuat dua gol balasan yang bertahan hingga laga usai. Namun, skuad besutan Herry Kiswanto ini masih aman di posisi ketiga dengan torehan 20 angka.


Asisten Manajer Persiraja, M Kasem mengatakan kubunya menerima kekalahan tersebut sebagai pelajaran di partai berikutnya. “Mereka (Persikad) menang lewat gol berbau offside. Tetapi kami menerima kekalahan ini sebagai persiapan untuk perjuangan ke depan yang masih panjang,” ungkapnya.


Sementara itu, PSSB harus mengakui keunggulan Persikab Bandung lewat skor tipis 2-3 di Stadion Jalak Harupat. Hasil ini kian memperpanjang buruknya rekor tandang Laskar Batee Kureng yang saat ini berada di peringkat ketujuh klasemen sementara IPL.


“Hasil yang mengecewakan karena kami sudah punya persiapan penuh. Tetapi, kami akan berusaha memetik kemenangan lagi di laga-laga selanjutnya,” pungkas arsitek PSSB, Anwar.“Krisis dana ini menyulitkan kami. Kepada masyarakat Bireuen tolong dukungannya untuk membangun tim ini ke arah yang lebih baik,” tambahnya.

Sabtu, 15 November 2008

Ambisi Menebus Kecewa


USAI menelan kekecewaan di partai lalu, kini Persiraja, PSAP dan PSSB siap membayarnya dengan torehan poin sempurna saat kembali menantang klub-klub Pulau Jawa dalam partai ke-35 lanjutan Indonesia Premier League (IPL) musim 2008-2009, Minggu (16/11) petang nanti. Ambisi tersebut guna mengamankan posisi ‘Si Tiga Saudara’ di klasemen sementara sekaligus mengangkat mental tim yang sedang diamuk krisis.


Persiraja Banda Aceh yang melawat ke kandang Persikad Depok tentu tak ingin dipaksa pulang dengan tangan hampa. Kesuksesan menahan imbang tuan rumah Persikota Tangerang pekan lalu menjadi pemicu semangat skuad Lantak Laju untuk meraih poin maksimal pada laga yang bakal berlangsung di Stadion Merpati, Depok ini.


Apalagi jika menilik dari trek bertanding, Persiraja jelas lebih mumpuni dibandingkan Persikad yang telah menelan enam kali kekalahan di musim ini. Kasta skuad besutan Herry Kiswanto ini juga lebih baik dengan bercokol di urutan ketiga (20 poin). Sementara, Persikad yang meraup sembilan poin masih berkutat di anak tangga ke-13, dua tingkat di atas sang juru kunci, PSAP Sigli.


“Kami optimis memetik tiga angka di kandang Persikad. Meskipun mereka diuntungkan lewat faktor tuan rumah, tetapi secara materi Persiraja jauh lebih baik dibanding kubu Persikad,” ungkap Asisten Manajer Persiraja, M Kasem, Sabtu (15/11).


Sementara itu, PSAP Sigli yang kian terbenam di dasar klasemen mencoba untuk bangkit ketika menantang Persikota di Stadion Benteng, Tangerang. Laskar Aneuk Nanggroe bertekad tak akan dipermalukan lagi dan berupaya mencuri poin dari tangan Laskar Benteng Viola.


Manajer PSAP, Munirwan, Sabtu (15/11) menyebutkan anak-anak asuhnya telah diinstruksikan untuk bermain lepas dan tanpa beban. “Kami akan berusaha semaksimal mungkin merebut angka di markas Persikota. Para pemain juga dalam kondisi fit dan siap berlaga walaupun prestasi lawan lebih baik dari kami,” sebutnya.


Dengan formasi 4-4-2 yang diturunkan pelatih M Daud, PSAP berupaya tak akan mengulangi kekalahan seperti yang mereka derita di Depok.


Hal senada juga ditegaskan kubu PSSB Bireuen yang dijamu Persikab Bandung. Bermodal persiapan penuh, Laskar Batee Kureng siap bertarung total dan menorehkan hasil maksimal di Stadion Jalak Harupat, Bandung.


Kendati pada pertandingan nanti skuad besutan Anwar ini minus dua pilar andalannya, Faisal Jalal dan Putra Habibi, namun bukan berarti harapan mencuri poin hilang dari kubu Laskar Juang.


“Upaya penuh kami lakukan dengan harapan doa serta restu dari pendukung PSSB agar pertandingan nanti berjalan sportif dan kemenangan ada di pihak kami,” kata pelatih PSSB, Anwar, Sabtu (15/11).


Ambisi menebus rasa kecewa memang wajib diusung ‘Si Tiga Saudara’ di laga petang nanti untuk menumbangkan kemapanan tim-tim tanah Jawa. Ambisi demi menjaga marwah klub-klub Aceh di pentas sepakbola nasional.

Rabu, 12 November 2008

Tiga Saudara Pulang dengan Kecewa


TIGA klub sepakbola Aceh; Persiraja, PSAP dan PSSB yang bertandang ke Pulau Jawa dalam lanjutan Indonesia Premier League (IPL) 2008 harus tersandung ketangguhan tim-tim tuan rumah. Berambisi membawa pulang kemenangan, ‘si tiga saudara’ akhirnya dipaksa keluar stadion dengan raut wajah kecewa.


Dari tiga bersaudara tersebut, hanya Persiraja Banda Aceh yang mampu mengakhiri laga dengan kepala tegak. Skuad Lantak Laju menahan imbang tuan rumah Persikota Tangerang, Banten 0-0 yang digelar di Stadion Benteng, Tangerang, Rabu (12/11). Sementara, PSSB Bireuen mesti mengakui keunggulan Persikabo bogor dengan skor tipis 1-0.


Pil teramat pahit terpaksa ditelan PSAP Sigli usai dibantai 4-0 oleh Persikad Depok. Kekalahan ini semakin memperpanjang rekor buruk Laskar Aneuk Nanggroe di kompetisi IPL.


Kesuksesan Persiraja menahan Persikota terletak pada kepiawaian lini belakang Laskar Rencong yang dikawal Toung Elly dkk. Berkali-kali gempuran lawan dari berbagai lini dengan cemerlang mampu dimentahkan pemain bertahan asal Kamerun itu. Kredit khusus juga layak disematkan pada Yudho prasetyo dan Yusdianto yang bermain baik sebagai tandem Toung Elly.Meski tuan rumah pada babak awal berupaya untuk membuahkan gol melalui beberapa penyerang seperti Usman Rusmaya, Mustopa Aji dan Tomi Oropka, namun palang pintu Persiraja sigap mengamankan daerahnya.


Anak-anak Banda Aceh sendiri bukannya tanpa peluang. Sejumlah aksi berbahaya sempat membuat jantung pertahanan Persikota pontang-panting. Bahkan, Nanda Lubis yang tampil ciamik di pertandingan ini beberapa kali sempat hanya berhadapan dengan penjaga gawang. Namun, penyelesaian akhir yang tak maksimal membuat peluang tersebut terbuang percuma.


"Kami sudah mengantisipasi taktik menyerang tuan rumah. Karena itu, para pemain sudah diinstruksikan untuk fokus ke pertahanan," ungkap pelatih Persiraja, Herry Kiswanto.


Sementara itu, PSSB Bireuen harus merelakan tiga poin di kandang Persikabo Bogor. Adalah pemain Persikabo, Nopianto yang mengubur mimpi Laskar Batee Kureng untuk terus menjaga persaingan di papan atas klasemen sementara IPL.


Lewat sebuah tendangan keras terukurnya di menit ke-9 babak pertama, Nopianto merobek gawang PSSB yang dikawal Masykur. Satu gol itu cukup untuk membawa Persikota menaklukan skuad Kota Juang.


Di tempat yang berbeda, PSAP Sigli kembali terkapar usai memetik kemenangan vital atas PSP Padang di kancah Copa Indonesia. Menyambangi markas Persikad Depok, bonden Pidie ini digasak dengan marka telak 4-0.


Manajer PSAP, Munirwan, menyebutkan kekalahan besar timnya akibat lemahnya barisan pertahanan. Ia pun mengakui bahwa kualitas pemain Persikad lebih baik ketimbang anak-anak asuhnya.


“Hasil ini tentu saja tidak kami inginkan. Tetapi memang kualitas pemain kita lebih buruk dari lawan,” pungkas Munirwan.“Selain itu, lemahnya pertahanan menjadi biang kerok mudahnya pemain Persikad membobol gawang kami,” tambahnya.

Selasa, 11 November 2008

Tiga Saudara Jajal Pulau Jawa


TIGA kekuatan sepakbola Aceh; Persiraja, PSAP dan PSSB bakal menjajal kehebatan klub-klub tanah Jawa pada partai lanjutan Indonesia Premier League (IPL), Rabu (12/11) petang. Trio saudara ini juga dipastikan bertarung total guna mengamankan posisi di klasemen sementara liga kedua terbaik di Indonesia tersebut.


Dari ketiga tim tersebut, hanya PSAP Sigli yang masih berkutat di papan bawah klasemen usai beberapa kali menderita kekalahan. Bonden Sigli itu hanya menuai sebiji kemenangan, dua kali imbang dan tujuh kali tanpa poin. Walhasil, PSAP pun mendarat mulus di dasar klasemen sebagai juru kunci dengan torehan lima poin.


Di laga petang nanti, PSAP akan menyambangi markas Persikad Depok. Sedangkan Persiraja serta PSSB mencoba menjinakkan tuan rumah Persikota Tangerang dan Persikabo Bogor.


Pertandingan kontra Persikad ini wajib dimenangkan Laskar Aneuk Nanggroe agar lepas dari zona degradasi. Tak hanya itu, PSAP butuh konsistensi poin untuk mendongkrak peringkat mereka dan menenangkan hati para suporter yang jengah akan kekalahan.


Beruntung, PSAP punya modal. Di partai perdana Copa Indonesia beberapa hari silam, PSAP sukses menggerus PSP Padang 2-1. Hasil ini jelas melecut semangat Sunday M Seah dkk untuk kembali bangkit di kompetisi liga.


“Kami akan bertarung habis-habisan untuk memenangkan laga ini. Paling tidak mencuri satu poin di Depok nanti,” tegas pelatih sementara PSAP Sigli, M Daud, Selasa (11/11).


Sementara itu, Persiraja Banda Aceh serta PSSB Bireuen punya posisi lebih terhormat di lima besar anak tangga IPL. Persiraja yang tampil mengkilap di tiga laga terakhir, menempel ketat sang pemuncak klasemen, PSPS Pekanbaru dengan perolehan 19 poin bersama PS Mitra Kukar Tenggarong. Skuad besutan Herry Kiswanto ini pun diuntungkan karena punya sisa satu pertandingan lebih banyak dibanding Mitra Kukar.


Jika mampu memenangkan laga melawan Persikota nanti, bukan mustahil kubu Lantak Laju merebut tampuk pimpinan dari tangan PSPS yang baru akan bertanding 21 November mendatang. Itu pun dengan catatan Persisam Putra Samarinda yang punya poin sama dengan PSPS (20 poin), takluk di kandang PSP Padang.


“Para pemain dalam kondisi yang fit dan kami juga bisa turun full team. Namun, kami sudah menginstruksikan agar bermain lepas dan fokus sebab kami bermain di bawah tekanan pendukung tuan rumah yang fanatik,” ujar Asisten Manajer Persiraja, M Kasem.


Untuk PSSB Bireuen, ini adalah kali pertama mereka berlaga setelah dua pekan lebih absen dari lapangan hijau. Menghadapi Persikabo Bogor di kandang lawan, Laskar Batee Kureng jelas tak mau pulang dengan tangan hampa dan semakin tertinggal dari jalur perburuan gelar.


Berkutat dengan permasalahan dana yang melilit klub, PSSB bakal berupaya bermain dalam top performance di IPL. Pasalnya, mereka sempat terombang-ambing dalam kancah Copa Indonesia akibat persoalan yang sama. Kendati akhirnya pihak BLI dan Komdis PSSI sudi memberikan dispensasi jadwal, namun persoalan itu diduga bakal cukup mengganggu perjalanan PSSB di kompetisi tersebut.


Ya, lawatan ke Pulau Jawa kali ini bukan mengusung sembarang misi. Mereka punya asa khusus. Asa untuk melambungkan nama klub-klub Aceh di kancah Liga Indonesia sembari menembus atmosfer Liga Super di kasta tertinggi.


Asa untuk menitis kebangkitan yang tengah ber-euforia di tubuh 'Si Tiga Saudara'.

Teruskan Performa, Djibril!


ABDOULAYE Diallo Djibril tengah merangkai asa tinggi bersama Persiraja Banda Aceh. Kendati masih diliputi gonjang-ganjing persoalan gaji, pilar asal Guinea ini tetap bersemangat memimpin rekan-rekannya untuk terus mendulang angka penuh bagi Laskar Rencong.


Usai sempat menyatakan mogok bermain, Djibril dkk akhirnya berdamai dengan pihak klub dan berkomitmen membawa Persiraja menembus pucuk klasemen Indonesia Premier League (IPL) guna menyegarkan harapan promosi ke Indonesia Super League (ISL).


“Saya sebelumnya memang sedikit bermasalah dengan klub soal gaji. Tetapi pihak klub sudah merampungkan hal ini dan kami sudah punya kesepakatan baru,” ungkap Djibril jelang keberangkatannya ke Tangerang, Senin (10/11).


Dengan demikian, Persiraja akhirnya dapat turun dengan kekuatan penuh saat menjajal kehebatan Persikota Tangerang, Rabu (12/11) petang nanti. Kehadiran Djibril sebagai skipper jelas merupakan nilai vital bagi bonden Kutaraja guna mencuri poin di kandang lawan.


“Saya dan rekan-rekan siap mengalahkan Persikota. Setidaknya kami dapat mencuri poin disana,” tambah mantan pemain PS Semen Padang ini.


Djibril memang sosok pilar di tubuh Persiraja. Sejak bergabung di awal musim, dirinya menjelma sebagai sosok yang tak tergantikan di lini depan skuad besutan Herry Kiswanto ini. Selain ban kapten yang tersemat di lengannya, Djibril punya andil besar dalam membuka ruang serang bagi kompatriotnya di barisan penggedor.


Setelah Antonio Teles dan Robson da Silva hengkang dari Persiraja musim lalu, Djibril memikul tanggung jawab besar untuk mempertajam ujung tombak pasukan oranye. Perannya sebagai jangkar sekaligus penyerang mempermudah tugas trio Mamadou-Leo-Musawir untuk membombardir gawang rival-rivalnya.


Kini, Djibril dkk berambisi menaklukkan Persikota di kandang lawan. Bukan pekerjaan mudah memang, apalagi mengingat Persikota juga bukan tim kemarin sore. Klub berjuluk Laskar Benteng Viola ini sempat menghempaskan PS Semen Padang yang tercatat pernah menaklukkan Persiraja beberapa bulan silam.


Persoalan pribadi juga mewarnai partai ini. Pasalnya, arsitek Lantak Laju, Herry Kiswanto juga pernah digadang-gadang membesut Persikota akhir musim lalu. Bersama Bambang Nurdiyansyah, pelatih timnas U-23, Herry mengisi daftar kandidat pelatih pengganti Mundari Karya yang dipecat Persikota karena tak kunjung menampilkan performa memuaskan.


Sementara itu, Asisten Manajer Persiraja M Kasem mengungkapkan anak-anak asuhnya siap memetik hasil positif di Stadion Benteng, Tangerang.


“Skuad kami berada dalam kondisi seratus persen dan siap berlaga. Kami juga dapat turun full team dan persoalan gaji para pemain telah diselesaikan,” ujarnya.


M Kasem juga menyebutkan kebijakan Persiraja memboyong 22 pemain terbaiknya ke Tangerang. Menurutnya, ini sebagai langkah pencegahan terhadap absennya pemain yang terkena akumulasi kartu.


“Kami membawa banyak pemain karena mengantisipasi akumulasi kartu kuning ketika bertanding melawan Persikad Depok setelah partai ini. Yang pasti kami siap meneruskan kemenangan,” jelas M Kasem.


Persiraja memang sedang dalam tren menanjak. Perolehan tiga poin seakan lengket di tubuh anak-anak Banda Aceh dalam tiga pertandingan terakhir. Salah satunya bahkan dituai di markas lawan ketika menyambangi PSDS Deli Serdang beberapa pekan silam.


Momen inilah yang kembali ingin diulang Djibril cs. Momen dimana mereka terus mengukir senyum di wajah para suporter, momen untuk konsisten menapak di trek kemenangan guna merengkuh titel juara di klasemen akhir IPL. Lanjutkan performa, Djibril!

Persiraja Akhirnya Berlaga di Copa


PERSIRAJA Banda Aceh dipastikan tetap tampil di ajang turnamen Copa Dji Sam Soe Indonesia 2008 dan siap menghadapi PSMS Medan. Kepastian itu diperoleh setelah manajemen Ayam Kinantan mencabut surat pengunduran diri yang pernah dikirimkan ke Badan Liga Indonesia (BLI), Kamis (6/11) lalu.

Komitmen Persiraja untuk tetap berlaga disebabkan karena PSMS urung menggelar laga kandang di luar pulau Sumatera. Ellie Aiboy cs bakal menjamu skuad Lantak Laju di Stadion Teladan atau di Stadion Baharuddin Lubuk Pakam.
Dengan demikian, kedua tim tetap bertemu pada leg pertama babak 48 besar turnamen nomor dua terakbar di Indonesia ini pada Selasa (25/11) mendatang. Setelah itu, Musawir dkk akan menjalani pertandingan leg kedua di Stadion H Dimurthala, Rabu (3/12).

Kepastian tersebut diutarakan Asisten Manajer Persiraja M Kasem. Ia mengatakan bahwa pihaknya telah menerima surat dari Persatuan Sepakbola Seluruh Indonesia (PSSI) untuk menjamin partai yang diadakan jelang akhir November mendatang tersebut.

“Kami telah menerima surat dari PSSI bahwa PSMS akan bermarkas di Stadion Teladan. Kalaupun ada perubahan mungkin hanya bergeser ke Stadion Lubuk Pakam,” ungkap M Kasem.

Ia juga menyebutkan bahwa timnya tetap berkomitmen untuk berlaga di Copa. Hal ini semata-mata untuk menghindari sanksi dari Komisi Disiplin (Komdis) PSSI dan BLI yang memberi ancaman serius bagi klub-klub yang mundur dari kompetisi ini.

“Persiraja tetap komit untuk bermain di Copa. Karena kami memang meminta agar partai tandang digelar di Sumatera Utara. Kalau di Teladan oke, di Lubuk Pakam juga masih bisa kami jangkau,” jelasnya.


Sementara itu, Direktur Kompetisi BLI, Joko Driyono membenarkan adanya pencabutan surat mundur dari Copa oleh PSMS. Ia juga menegaskan tak ada masalah jelang partai PSMS kontra Persiraja nanti.


“PSMS telah mencabut surat pengunduran dirinya. Dengan demikian, tidak ada masalah lagi untuk pertandingan nanti,” ujar Joko.


Seperti diberitakan sebelumnya, Komdis PSSI memberi toleransi kepada klub yang menyatakan mundur dari Copa Dji Sam Soe Indonesia. Komdis meminta BLI untuk mengkonfirmasi hingga 6 November untuk memastikan apakah mereka mundur atau tidak. Jika sampai mundur, dipastikan sanksi sudah menanti.


Hal tersebut seperti pernah diungkapkan Joko yang juga anggota Komdis PSSI. Meski kala itu pria berkaca mata ini tidak menyebutnya sebagai sanksi, tapi lebih pada pencabutan linsensi klub profesional bagi tim yang menyatakan mundur dari turnamen Piala Indonesia musim ini.


Dengan pencabutan lisensi profesional itu, sama artinya klub yang bersangkutan dipastikan tidak bisa mengikuti kompetisi yang digelar BLI. Baik itu di ajang Liga maupun Copa. Sebab klub itu sudah dianggap amatir dan terlempar ke Badan Liga Sepakbola Amatir Indonesia (BLAI). Atau dalam hal ini klub tersebut turun kasta, alias degradasi.

Sabtu, 08 November 2008

Persiraja Terancam Mundur dari Copa


KESEBELASAN Persiraja Banda Aceh terancam mundur dari perhelatan Copa Dji Sam Soe 2008 yang bakal digelar pertengahan bulan ini. Penarikan diri Persiraja ini akibat dana klub yang tidak memadai untuk mengikuti kompetisi sepakbola nomor dua terbaik di Indonesia tersebut.


Persiraja yang memang dililit masalah keuangan sejak awal musim 2008-2009 menolak jadwal partai tandang mereka kontra PSMS Medan yang belum jelas dimana diadakan. Mereka menginginkan agar PSSI menggelar laga tersebut di Stadion Teladan, Kota Medan.


Namun, renovasi stadion yang belum selesai membuat laga terpaksa dilakukan di tempat lain. PSMS sendiri beberapa bulan silam pernah berencana bermarkas di Stadion H Dimurthala Lampineung yang notabene kandang Persiraja.


Tim berjuluk Ayam Kinantan itu bahkan sempat membuat heboh dengan berniat memindahkan home base ke Pulau Pinang, Malaysia. Dan untuk partai Copa nanti, berhembus rumor bahwa PSMS akan mencari kandang di luar Pulau Sumatera.


Hal tersebut jelas tak diterima kubu Laskar Rencong yang minus dana. Asisten Pelatih Persiraja, M Kasem mengatakan menolak jika laga tak digelar di Medan.


“Kami menolak bertanding kalau partai melawan PSMS dilakukan di luar Pulau Sumatera. Jangankan di luar pulau, tingkat bertandang ke Riau atau Jambi saja kami tak punya dana,” sergahnya.


Kendati demikian, ia menyangkal kalau Persiraja sengaja mengundurkan diri dari ajang Copa Indonesia. Ia bersama pihak klub bahkan telah menyampaikan permintaan agar diberi kompensasi jadwal away ketika melakukan rapat dengan Komisi Disiplin (Komdis) beberapa hari lalu.


“Kami sudah bertemu Komdis terkait absennya Persiraja dari Copa kemarin. Kami juga telah menyampaikan permintaan kompensasi untuk jadwal tandang,” ungkap M Kasem.


“Memang kami punya niat ikut di kompetisi Copa. Namun, BLI dan PSSI tolong memberi kompensasi jadwal partai tandang yang mesti kami lakoni,” tambahnya.Mundurnya skuad Lantak Laju dari Copa jelas menimbulkan polemik baru. Pasalnya, Badan Liga Indonesia (BLI) dan Persatuan Sepakbola Seluruh Indonesia (PSSI) mengancam akan memberi sanksi plus pencoretan nama tim dari ajang Copa selamanya.

Selasa, 04 November 2008

Marwan Mulieng, Si Raja Tinju dari Kutaraja


SIANG itu mentari bersinar terik membakar atap genteng Bank BPD Aceh. Namun di sudut ruangan, sesosok pria kekar tampak santai mengawasi para nasabah di balik meja kayu coklat berlabel security. Sekilas, wajahnya yang ditumbuhi jambang lebat terlihat sangar. Kontras dengan pakaian safari yang membalut tubuh gempalnya.

Mungkin sedikit yang menyangka pria itu adalah Marwan Mulieng, mantan atlet tinju tanah rencong yang pernah menjadi legenda di dunia adu jotos nusantara. Ya, Lewat ketangguhannya ia begitu disegani setiap lawan di atas ring.

Petinju kelahiran Laweung, Pidie, 4 Mei 1977 ini memang punya sederet prestasi gemilang. Mulai menekuni tinju pada tahun 1991 di bawah naungan Sasana Pemuda Pancasila Banda Aceh, Marwan langsung menunjukkan bakatnya.

Terbukti di tahun 1995, ia mampu menembus rangking 8 besar nasional. Dua tahun kemudian, Marwan kian mencengangkan mata pengamat tinju ketika secara gemilang menjadi jawara plus petinju favorit pada pentas tinju internasional di Padang, Sumatera Barat. Kala itu, ia sukses menumbangkan lawan-lawannya yang berasal dari Amerika, Filipina dan Australia.

“Saya menjadi juara di Padang. Lawan saya berat-berat karena berasal dari negara-negara yang punya nama besar di olahraga tinju. Alhamdulillah, saya bisa menang sekaligus menjadi juara favorit,” kenangnya.

Tahun 1998, Marwan meraih juara II pada pra-Pekan Olahraga Nasional (PON) di Kalimantan Timur. Di tahun yang sama, ia juga tampil sebagai kampiun pada kejuaraan Sarung Tinju Emas (STI). Saat itu, Marwan menganvaskan kandidat juara, Cem Bahri yang notabene adik dari petinju tenar dan peraih medali emas Asian Games, Pino Bahri. “Saya mengalahkan Cem Bahri yang difavoritkan menang. Padahal dia kan adik dari Pino Bahri,” ujar Marwan bangga.

Setahun kemudian, petinju yang memiliki gaya fighter ini menyabet medali emas pada pra-PON di Irian Jaya dan kembali menjadi nomor satu di ajang STI pada awal millennium. Empat tahun berturut-turut inilah masa keemasan Marwan di dunia tinju sebelum akhirnya pensiun di tahun 2003. Ia memutuskan gantung sarung tinju usai mendulang medali perak pada Sea Games di Vietnam.

Sejak saat itu, Marwan tak lagi berkecimpung di dunia yang pernah membesarkan namanya ini. Ia menghabiskan hari-harinya sebagai salah satu security di Bank BPD Banda Aceh yang dilakoninya mulai tahun 2001 silam. Ia juga tak berminat duduk di jajaran pengurus cabang (pengcab) tinju Banda Aceh.

Alasannya, ia gerah dengan kepengurusan tinju Aceh yang sering plin-plan dalam pembinaan atlet. Selain itu, gonjang-ganjing pihak KONI yang diisukan tak becus mengurus pendanaan olahraga membuat pria yang akrab disapa Cut Mulieng ini kian muak.

“Sejak saya pensiun tahun 2003, saya tak lagi terlibat dalam olahraga tinju. Saya malas melihat orang-orang di Pengcab dan KONI yang tidak becus,” ungkapnya datar.

Kendati demikian, bukan berarti kepeduliannya terhadap perkembangan olahraga tinju ikut memudar. Marwan meminta agar pemerintah daerah terus meningkatkan pembinaan terhadap calon-calon bintang tinju Aceh masa depan.

“Tolong ditingkatkan lagi pembinaan petinju-petinju muda kita. Saya lihat, pemerintah daerah masih kurang perhatian terhadap olahraga yang satu ini,” cetus mantan raja tinju kelas ringan ini getir.

Lelaki berusia 31 tahun ini juga menyayangkan masih adanya atlet-atlet luar yang direkrut oleh Pengda Aceh. Ia meminta agar anak-anak Aceh lah yang mesti digenjot kemampuannya guna mengharumkan nama Serambi Mekkah.

“Tolong Aceh jangan mengambil petinju-petinju luar. Ambil anak daerah sendiri,” tukas Marwan.

Untuk itu, ia menyarankan pemerintah lebih serius menjamin masa depan para atlet. Seringkali kita lihat banyak atlet yang punya prestasi mengkilap namun masa depannya diabaikan oleh negara.

“Negara harus lebih menjamin masa depan atlet. Kalau bukan jadi PNS, ya satpam lah setidak-tidaknya seperti yang telah diberikan Bank BPD Aceh kepada saya,” celoteh pria yang punya tinggi badan 165 cm itu lirih.

Aceh memang punya potensi melahirkan petinju-petinju berbakat. Tak jarang atlet-atlet adu jotos tanah rencong meraih gelar bergengsi serta berandil besar dalam mengharumkan nama daerah dan bangsa. Dan Marwan Mulieng adalah satu di antara mereka.

Ketika ditanya apa resepnya menjadi seorang atlet tinju yang handal, Marwan hanya berujar pendek sembari tersenyum kecil. “Latihan yang tekun dan hargai waktu. Karena setiap detik sangat berharga bagi karir dan kemampuanmu,” pungkasnya seraya mengepalkan tinju.

Jumat, 31 Oktober 2008

Lanjutkan Gebrakan, Supermamadou!

NIANE Mamadou kini tengah dielu-elukan publik sepakbola Banda Aceh. Bagaimana tidak? Turun kembali usai liburan jeda musim Ramadhan, penyerang lincah ini membuat gebrakan yang membuat seisi Stadion H Dimurthala meledak dalam tawa kemenangan.

Supermamadou memang menjadi andalan di tubuh bonden Kutaraja saat ini. Lewat aksi-aksi apiknya, mantan pilar timnas junior Mali ini sukses membuat lini belakang lawan ketar-ketir. Ditambah lagi, ia adalah pembobol gawang lawan terbanyak alias top skorer sementara untuk Persiraja dengan torehan empat gol. Catatan tersebut kian mengukuhkan mantan top skor PS Sleman ini sebagai kartu as bagi tim besutan Herry Kiswanto.

Kini Mamadou kembali dipercaya sebagai hulu ledak Laskar Rencong ketika menjamu Persikab Bandung di Stadion H Dimurthala Lampineung, Banda Aceh, Sabtu (1/11). Pemain berusia 30 tahun ini diharapkan mampu menunjukkan peak performance-nya lagi seperti saat menggerus tim Tanah Pasundan lainnya, Persikabo Bogor, awal pekan silam.

Saat itu, pemain yang juga sempat memperkuat Persijap Jepara dan PS Semen Padang ini secara jeli berhasil lolos dari jebakan offside dan tanpa ampun merobek gawang Persikabo dengan memanfaatkan umpan terobosan cantik dari Abdul Musawir.

Gol tersebut kontan membangkitkan semangat skuad Lantak Laju. Hasilnya, mereka sukses menambah satu gol pengunci kemenangan lewat sundulan Nanda Lubis.

Kendati Persikab saat ini juga sedang bagus-bagusnya, namun keberhasilan menghantam Persikabo menjadi modal luar biasa bagi Persiraja untuk kembali mencetak gebrakan. Tentu bersama sang bintang, Mamadou.

Mamadou memang penyerang yang bertipikal on target pressure. Umpan-umpan dan posisinya kerap memanjakan rekan-rekannya di lini depan. Belum lagi jika melihat akselerasi dan dribbling bola menawannya yang mampu menyihir para bek lawan.

Pemain yang mengidolakan legenda sepakbola asal Prancis, Zinedine Zidane ini memang punya karakter mirip mantan playmaker Real Madrid tersebut. Dengan skill individu fantastis plus empunya pundi-pundi gol terbanyak, Mamadou kian menjelma sebagai ikon tak tergantikan di skuadra Kutaraja.

Lewat sentuhannya, Supermamadou kembali mengilapkan taring Persiraja yang pernah tumpul di pertengahan awal musim. Taring yang bakal mencabik-cabik Persikab Bandung di kandang angker Stadion H Dimurthala.

Rabu, 29 Oktober 2008

Saatnya Berevolusi, PSAP!

PSAP Sigli ini tengah dirundung awan gelap. Aib demi aib dituai bonden Pidie di kompetisi Indonesia Premier League (IPL) karena hilangnya rasa kesolidan tim. Ya, inilah saat untuk berevolusi!

Akibat dua kali kekalahan di kandang sendiri, PSAP tanpa ampun terjerembab di dasar jurang degradasi. Tak hanya itu, rasa saling tidak percaya di antara pengurus dan pelatih serta pemain kian memicu retaknya keharmonisan di tubuh Laskar Aneuk Nanggroe.

Sudah menjadi rahasia umum, bahwa di antara pengurus PSAP terjadi keretakan. Saling tuding dan menyalahkan sesama pengurus membuat tim kesayangan publik Pidie itu porak-poranda. Para pendukung serta masyarakat pun meminta PSAP segera melakukan evaluasi.

Usman Ali (40 tahun) warga Beureuneun, menuturkan, keterpurukan tim kesayangan masyarakat Pidie itu disebabkan ‘perang’ antar perangkat tim, sehingga pada setiap laga PSAP menderita kekalahan. "Ini jangan dianggap remeh," cetusnya.

Bahkan, kekalahan beruntun PSAP adalah fenomena mengerikan serta ‘dosa’ bagi Stadion Kuta Asan dan suporter Pidie . Pasalnya, dalam sejarah sulit buat tim lawan untuk mengalahkan PSAP di kandang sendiri. "Ini kan akibat tidak becusnya pengurus dalam menangani tim," jelasnya.

Hal senada juga diungkapkan Mustafa (28 tahun), warga Batee. Sebut dia, kekalahan PSAP lebih disebabkan kualitas pemain sangat buruk, sehingga membuat tim ini tidak bisa berbuat banyak di kancah IPL. "Jika tidak ingin terpuruk maka pengurus wajib intropeksi diri, bukannya saling menyalahkan," paparnya.

PSAP kini memang tak berkutik di dasar klasemen sementara IPL. Hal ini jelas membuat peluang ancaman terdegradasi ke Divisi I semakin terbuka. Apalagi para suporter telah jenuh dan lelah oleh tren buruk klubnya.

Kejenuhan ini menjadi handicap serius yang mesti dibaca oleh para petinggi PSAP. Tak jarang sebuah klub ditinggalkan para pendukungnya karena tak mampu bangkit dan enggan mendengarkan suara-suara suporter.

Untuk itu, tak ada jalan bagi bonden Pidie selain melakukan perombakan ekstrim mulai sekarang. Solusinya, bisa saja dengan lebih menaruh perhatian pada saran-saran pendukung dan memberikan ruang gerak lebih luas bagi para pencari bakat untuk menyeleksi para pemain yang dianggap punya mental serta mempu mengembalikan marwah PSAP sebagai salah satu klub yang pernah disegani di peta persepakbolaan nasional.

Ya, jika hal seperti ini dilaksanakan sedari dini, maka bukan tak mungkin taring PSAP kembali menggigit. Taring yang pernah mencabik-cabik kemapanan tim-tim tenar di Liga dan Copa Indonesia.Ayo, PSAP! Bangkit dan tunjukkan bahwa tajimu masih tajam untuk mencengkram dinding terjal Divisi Utama PSSI. Mari lakukan perubahan demi nama Aneuk Nanggroe yang pernah jaya di belantika sepakbola nusantara.

Tarian Maut Leo-Musawir

LEONARDO Felicia dan Abdul Musawir sedang berada dalam performa tinggi. Usai membawa Persiraja menahan imbang PSSB Bireuen di laga derby serta menaklukkan PSDS Deli Serdang, tarian maut mereka kembali membantu skuad Banda Aceh mengubur Persikabo Bogor di Stadion H Dimurthala, Banda Aceh.

Kendati tak mencetak gol, permainan apik mereka kerap membuat pontang-panting barisan belakang lawan. Permainan yang membawa Persiraja mencecar gawang Persikabo dua gol tanpa balas.
Duet mesin gol Lantak Laju ini memang tengah on fire. Sejak digulirkannya Indonesia Premier League (IPL) musim 2008-2009, kolaborasi ujung tombak Persiraja ini memang menjadi momok menakutkan para bek dan kiper rival-rivalnya.

Yang masih segar dalam ingatan tentu saja dua laga terakhir pasca jeda musim bulan Ramadhan. Ketika itu, Musawir hampir saja mempersembahkan tiga angka bagi Laskar Rencong di markas PSSB Bireuen. Saat itu, golnya di menit ke-20 membuat seisi Stadion Cot Gapu bungkam. Sayang, 18 menit kemudian, Zulkarnaen sukses mencetak gol balasan.

Sewaktu melawat ke kandang PSDS, giliran Leo yang unjuk gigi. Jugador asal Argentina ini membawa Persiraja menjungkalkan Tim Traktor Kuning via sebuah tendangan bebas nan menawan. Kendati menang tipis 1-0, tiga poin sukses ditenteng pulang skuad besutan Herry Kiswanto.
Menargetkan titel kampiun IPL atau promosi ke Super Liga tentu juga tak semudah membalikkan telapak tangan. Asa yang membubung tinggi seketika dapat berubah menjadi bumerang.

Kendati demikian, Leo-Musawir menjanjikan peluang bagi Persiraja di lini depan. Sedangkan di garis pertahanan, Yusdianto yang tampil gemilang di laga kontra PSDS ketika menggantikan peran Toung Elly sebagai komandan barisan belakang, diharapkan konsisten mementahkan gelombang serangan lawan. Sementara Toung Elly bersama Yudho Prasetyo tak diragukan lagi sebagai palang pintu utama.

Urusan playmaker masih milik Djibril sebagai pembuka alur serang bagi kompatriotnya di lini depan. Pemain satu ini memang diharapkan mampu membuat pasukan rencong oranye terus tertawa di kancah Liga Indonesia. Djibril jugalah yang punya andil atas hidupnya strategi tempur Persiraja saat menjungkalkan kemapanan PSDS Deli Serdang di Stadion Baharuddin Lubuk Pakam serta kemenangan meyakinkan 2-0 atas Persikabo di markas klub kebanggaan publik Banda Aceh tersebut.

Masih belum cukup. Skuadra Ibukota Serambi Mekkah ini juga dipastikan kembali diperkuat penyerang lincah mereka, Mamadou yang telah kembali dari masa libur. Hadirnya Mamadou tentu lebih membuat leluasa gerakan Leo-Musawir untuk mengobrak-abrik pertahanan lawan. Terbukti saat menggilas Persikabo, Mamadou tampil sebagai pahlawan dengan mencetak gol kemenangan.

Ya, atmosfer positif ini wajib dimanfaatkan Leo-Musawir untuk terus mencetak gol-gol di gawang lawan. Lewat perpaduan tarian Tango dan semangat Laskar Rencong, mereka berambisi memberikan senyum kemenangan di wajah suporter Kutaraja. Kemenangan yang sekaligus menjaga keangkeran Stadion H Dimurthala.

Kamis, 23 Oktober 2008

Kempo Aceh Minim Dukungan


USAHA untuk meningkatkan prestasi terus dilakukan para insan Kempo di Aceh. Berbagai program serta sumbangan fisik mereka coba demi meningkatkan semangat. Setelah tsunami dan konflik melanda Provinsi paling barat Indonesia ini, mental dan psikis atlet tentunya wajib dibangun kembali.


Upaya membangun hal tersebut tentu bukan hanya mengumbar senyum dan kata-kata. Mereka menuntut agar ada lembaga yang bisa men-support keberadaan salah satu cabang bela diri ini.


Apalagi saat ini mereka tengah serius menggerakkan program atlet kempo untuk anak-anak korban tsunami dan konflik. Anak-anak tersebut direkrut dari sebuah yayasan di Aceh Besar. Panti yang bernama Fajar Hidayah ini selain menampung sejumlah anak-anak korban konflik dan tsunami, juga ada anak-anak yatim dan tak memiliki tempat tinggal.


Haspriadi, atlet senior kempo Aceh, mengatakan bahwa dirinya dibantu beberapa rekannya mencoba membimbing anak-anak yayasan ini untuk serius berlatih kempo. Ia merekrut 25 orang dari yayasan tersebut untuk dibimbing dibawah arahan Deny Firmansyah, seorang pelatih muda yang juga mantan anak asuh Haspriadi.


“Saya menginginkan anak-anak ini dapat menjadi penerus atlet kempo berbakat di Aceh,” ujar Haspriadi. Pria berusia 33 tahun ini menambahkan bahwa suatu saat anak-anak asuhnya tersebut dapat berprestasi baik di ajang nasional maupun internasional.


Namun kendala fasilitas dan dana selalu membentur langkah mulia Haspriadi. Latihan yang dipusatkan di belakang Stadion Harapan bangsa, Lhoong Raya tersebut acapkali tidak disertai oleh fasilitas yang memadai. Mereka berlatih dengan modal fasilitas 'pinjam-pinjam'.


Haspriadi bukannya diam saja dengan hal tersebut. “Saya miris melihat minimnya fasilitas dan dana untuk program ini,” ungkapnya. Meski begitu ia berusaha melengkapi alat-alat latihan dengan fasilitas yang ia punya, itupun seadanya. “Demi melihat anak-anak konsisten latihan, saya sudah meminjamkan beberapa alat-alat yang saya punya, seperti glove, body protector dan matras,” kata atlet yang juga sempat berjibaku di PON Kaltim ini.


Sekretaris Umum Persatuan Kempo Indonesia (PERKEMI) Kota Banda Aceh, Agus Wahyudi, mengatakan bahwa program usia dini ini telah mereka layangkan ke Dinas Pemuda dan Olahraga (DISPORA) NAD, namun hingga kini belum ada jawaban pasti dari dinas tersebut.


“Kami sudah membuat surat proposal ke DISPORA, tapi belum disetujui,” kata Agus. Lebih lanjut, ia mengatakan bahwa tak tertutup kemungkinan program itu akan dilaksanakan tahun depan.Dalam kesempatan lain Agus juga menyebutkan kurangnya kualitas pelatih yang ada. Hal ini tentu saja dibutuhkan generasi atlet masa depan untuk menuai prestasi di ajang yang bergengsi. “Secara umum dan yang paling mendasar kami butuhkan sekarang adalah peningkatan kualitas pelatih. Selama ini kualitas pelatih yang ada tidak mumpuni dalam menggenjot performa atlet,” terangnya.

Bryan, Si Benteng Muda Serambi Mekkah


BUAH jatuh tak jauh dari pohonnya. Pepatah ini lazim diucapkan bagi sesuatu atau seseorang yang mengikuti jejak pendahulunya. Tak hanya darah yang mengalir di tubuh seseorang tersebut, terkadang kemampuan dan genetika secara harfiah pun ikut bersemayam pada dirinya.


Itulah yang dimiliki Bryan, pemain bola muda usia yang merambah jejak sang ayah. Bocah bernama lengkap Bryan Muharram ini memang berpotensi sebagai suksesor dan bintang sepakbola tanah rencong masa depan.


Ya, anak pasangan mantan pelatih PSMS, Iwan Setiawan dan Dewi Anggreini tersebut memang berdarah Aceh tulen. Kendati terlahir di Tangerang namun kedua orang tuanya berasal dari Aceh. Sang ayah yang juga mantan pemain Pelita Jaya itu adalah kelahiran Aceh Selatan dan besar di Sabang. Ibunya tak jauh beda, lahir serta menghabiskan masa kecil di Aceh Tenggara.


Darah sepakbola sangat kental mengalir di keluarga Bryan. Selain dirinya dan Iwan, sang abang Gerry Setiawan juga pemain bola dan berposisi sebagai penjaga gawang. Bryan sendiri punya posisi ganda. Anak ke-3 dari 5 bersaudara ini bisa ditempatkan sebagai libero ataupun gelandang bertahan. Kemampuan yang makin identik, karena Iwan Setiawan dulunya bermain di sektor gelandang.


Karir Bryan memang potensial mencuat. Menempa kemampuan tak jauh-jauh dari skala nasional dan internasional. Dirinya pernah bergabung bersama Timnas U-15 berlatih di Singapura. Kini, ia tengah mengikuti akademi sepakbola di Paraguay.


Sewaktu ditemui pada sela-sela latihan seleksi di Stadion Harapan Bangsa, Banda Aceh, Bryan berujar diiringi siulan canda rekan-rekan satu timnya. Ia menyebutkan kalau dirinya amat termotivasi untuk bisa meningkatkan kemampuan dalam skuad muda Aceh di Paraguay.


“Sungguh saya amat bahagia bergabung dan menempa skill di salah satu negara sepakbola dunia. Saya berharap dapat mengasah kemampuan lebih baik di Paraguay nanti,” celotehnya.


Bryan juga mengatakan bahwa untuk itu ia berupaya sekuat tenaga menjaga konsistensi permainan. Meski masih belum terlihat dalam peak performance, setidaknya sang pelatih Miguel Angel Arrue asal Paraguay ini kerap memberikan kesempatan starter pada dirinya.


Kerja keras untuk meningkatkan performa memang wajib dilakoni Bryan. Apalagi ia bercita-cita suatu saat dapat bermain untuk Timnas Indonesia. Jalan kesana memang tak gampang, namun faktor usia, pengalaman serta dukungan penuh dari keluarga menjadi nilai penting yang akan membantunya meraih hal tersebut.Ditanyai jika sukses apakah akan memikirkan karir bermain di klub internasional, Bryan berterus terang hal tersebut jelas menjadi impiannya. “Saat ini saya fokus pada memberikan yang terbaik bagi tanah air. Tetapi, kalau kesempatan itu datang tentu saja saya sangat gembira,” ujarnya sembari tersipu.

Krisis Dana dan Semangat Klub-klub Aceh


PERSOALAN keuangan yang melanda sejumlah klub-klub sepakbola Aceh memang meresahkan peta persaingan si kulit bundar di tanah rencong. Walaupun demikian, masih ada secercah semangat yang ditunjukkan para pemain yang tetap solid membela klubnya masing-masing.

Kendati dibelit permasalahan keuangan klub, PSSB Bireuen mampu menampilkan performa stabil di delapan laga terakhir Indonesia Premier League (IPL). Mereka hanya menuai sekali kekalahan dan dua kali imbang, sisanya sukses dituntaskan Laskar Batee Kureng dengan kemenangan.
Kekalahan itu pun didapat ketika bertandang ke markas Persibat Batang. Skuad besutan Anwar yang memang menurun kondisi fisiknya usai melaksanakan ibadah puasa turun tanpa persiapan penuh. Mereka hanya pasrah ketika dipaksa pulang dengan tangan hampa.

Namun, trek bagus kembali didulang Kubay Qoiyan dkk setelah menumbangkan PSAP Sigli dengan skor telak 2-0. Walau sempat ditahan imbang Persiraja 1-1 di laga sebelumnya, PSSB mulai terlihat berada dalam atmosfer positif.
Hal yang sama juga terjadi di kubu Persiraja Banda Aceh. Gonjang-ganjing ditubuh bonden Kutaraja mengenai gaji pemain yang belum dibayar menjadi momok serius di jeda musim bulan Ramadhan. Bahkan berhembus isu tak sedap soal keengganan pemain kembali memperkuat klub.

Namun, nyatanya klub berjuluk Lantak Laju ini mampu menggoreskan senyum di wajah para pendukung setia mereka dengan mengawali jeda musim lewat raihan mengkilap. Setelah sukses menahan imbang tuan rumah PSSB di Stadion Cot Gapu yang terkenal angker bagi tim-tim lawan, Musawir cs mengganas dengan mempermalukan PSDS Deli Serdang di depan publik sendiri.

Hasil ini tentu jauh meleset dari dugaan semula, dimana awalnya Persiraja ‘divonis’ semakin terpuruk oleh terpaan krisis dana klub yang berkepanjangan. Ditambah lagi, performa yang kurang menjanjikan di awal musim dimana mereka tiga kali tersungkur di kaki lawan. Satu diantaranya justru diderita di kandang sendiri.

Satu-satunya tim asal Aceh yang masih berkutat di papan bawah klasemen sementara IPL hanya PSAP Sigli. Klub yang satu ini memang porak-poranda usai dicemooh pendukung sendiri setelah berkali-kali bertekuk lutut baik laga tandang maupun kandang.

Dua hasil negatif yang diperoleh Laskar Aneuk Nanggroe di dua partai terakhir turut diperparah dengan memanasnya kursi sang pelatih, Sofyan Hadi. Mantan caretaker Persiraja ini absen mendampingi anak-anak asuhnya berlaga. Pihak klub sendiri enggan memberikan keterangan pasti kemana sang arsitek lapangan hijau ini ‘menghilang’.

Kendati demikian, terlepas dari tren buruk yang membelit PSAP, para pemainnya tetap gigih membawa klub Sigli ini ke arah yang lebih baik. Seperti perjuangan spartan yang diperlihatkan Sunday M Seah dkk ketika meladeni PSDS Deli Serdang di Lubuk Pakam. Walau mesti keluar lapangan tanpa poin, para jugador PSAP keluar dengan kepala tegak setelah mampu merepotkan tim tuan rumah. Marka 1-0 itupun didapat PSDS lewat sebuah laga sarat kontroversial.

Saat ini hanya semangat yang mampu membangkitkan klub-klub serambi mekah ini dari keterpurukan. Semangat pantang menyerah dan keyakinan untuk membawa tim ke level yang lebih tinggi menjadi satu telur emas yang tersisa di relung hati terdalam para pemain.Ya, semangat untuk menopang ketidakmapanan tim dan menjejakkan panji-panji tanah rencong di medan peperangan Liga Indonesia.